pendidikan berkualitas dimasa depan, selain dari aspek utama yang diselenggarakan pemerintah. butuh pula dihadirkan pemahaman kepada lapisan masyarakat untuk memiliki sense of belonging (rasa memiliki) yang sama, bagaimana menjaga gedung pemerintah (sekolah) sebagai aset bersama yang dimana aset masa depan sesungguhnya (anak) menempuh berbagai bidang keilmuan. hal termudah yang bisa dilakukan bersama adalah salah satunya menciptakan ekosistem yang aman dan ramah kepada peserta didik, yang dihadirkan oleh seluruh civitas sekolah (pedagang-kepala sekolah). ekosistem ini harus dibangun dengan berbagai perspektif dan implementasi yang terukur.
istilah guru kencing sambil berdiri murid kencing sambil berlari bisa menjadi gambaran bahwa apapun yang dilakukan guru akan ditiru oleh peserta didik, dengan perspektif ke kanak-kanakannya. sekolah adalah ruang kedua sebagai rumah untuk anak anak. selayaknya rumah, maka ia harus penuh kasih sayang mulai dari kepedulian ayah kepada pendidikan anaknya. meluangkan waktu 5-10 menit berdialog dengan anaknya yang sedang bersekolah (menempuh pendidikan). mulai dari kendalanya mengikuti pelajaran di sekolah, bagaimana anak menjalin pertemanan di sekolah, dan terlibat pada pekerjaan rumah yang diberikan guru ke peserta didiknya.
jika kurikulum pemerintah yang telah diformulasikan dengan sedemikian rupa oleh berbagai pihak untuk menjawab disrupsi sosial, namun dalam prosesnya tidak melibatkan figur ayah dalam pendidikan. kita boleh ragu bagaimana menyongsong 2045 dengan meminimalisir kekeliruan.
aset negara sesungguhnya adalah anak anak hari ini, sebagai penerus pembangunan dan kemajuan baik di Kabupaten Bogor atau Indonesia secara keseluruhan. pendidikan idealnya diawali dalam rumah tangga, dimotori oleh figur ayah sehingga selain dapat menghadirkan keluarga yang cerdas baik dari segi kultur/budaya, agama, dan sosial juga sebagai fondasi menjadi bangsa yang kuat.
pendidikan adalah etalase; namun ia juga harus menghadirkan produk yang berkualitas.